Selasa, 15 Oktober 2013

Queue di SRC-NAT & WEB-PROXY

By: Unknown On: 20.06
  • Let's Get Social

  • Pada penggunaan queue (bandwidth limiter), penentuan CHAIN pada MENGLE sangat menentukan jalannya sebuah rule. Jika kita memasang SRC-NAT dan WEB-PROXY pada mesin yang sama, sering kali agak sulit untuk membuat rule QUEUE yang sempurna. Penjelasan detail mengenai pemilihan CHAIN, dapat dilihat pada manual Mikrotik di sini. Percobaan yang dilakukan menggunakan sebuah PC dengan Mikrotik RouterOS versi 2.9.28. Pada mesin tersebut, digunakan 2 buah interface, satu untuk gateway yang dinamai PUBLIC dan satu lagi untuk jaringan lokal yang dinamai LAN.

    [admin@instaler] > in pr
    Flags: X - disabled, D - dynamic, R - running 
     #    NAME       TYPE    RX-RATE    TX-RATE    MTU  
     0  R public     ether   0          0          1500 
     1  R lan        wlan    0          0          1500
    
    Dan berikut ini adalah IP Address yang digunakan. Subnet 192.168.0.0/24 adalah subnet gateway untuk mesin ini.

    [admin@instaler] > ip ad pr
    Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 
     #  ADDRESS           NETWORK      BROADCAST      INTERFACE
     0  192.168.0.217/24  192.168.0.0  192.168.0.255  public   
     1  172.21.1.1/24     172.21.1.0   172.21.1.255   lan
    
    Fitur web-proxy dengan transparan juga diaktifkan.

     [admin@instaler] > ip web-proxy pr
                     enabled: yes
                 src-address: 0.0.0.0
                        port: 3128
                    hostname: "proxy"
           transparent-proxy: yes
                parent-proxy: 0.0.0.0:0
         cache-administrator: "webmaster"
             max-object-size: 4096KiB
                 cache-drive: system
              max-cache-size: none
          max-ram-cache-size: unlimited
                      status: running
          reserved-for-cache: 0KiB
      reserved-for-ram-cache: 154624KiB
    
    Fungsi MASQUERADE diaktifkan, juga satu buah rule REDIRECTING untuk membelokkan traffic HTTP menuju ke WEB-PROXY

    [admin@instaler] ip firewall nat> pr
    Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 
     0   chain=srcnat out-interface=public 
         src-address=172.21.1.0/24 action=masquerade 
     1   chain=dstnat in-interface=lan src-address=172.21.1.0/24 
         protocol=tcp dst-port=80 action=redirect to-ports=3128
    
    Berikut ini adalah langkah terpenting dalam proses ini, yaitu pembuatan MANGLE. Kita akan membutuhkan 2 buah PACKET-MARK. Satu untuk paket data upstream, yang pada contoh ini kita sebut test-up. Dan satu lagi untuk paket data downstream, yang pada contoh ini kita sebut test-down.
    Untuk paket data upstream, proses pembuatan manglenya cukup sederhana. Kita bisa langsung melakukannya dengan 1 buah rule, cukup dengan menggunakan parameter SRC-ADDRESS dan IN-INTERFACE. Di sini kita menggunakan chain prerouting. Paket data untuk upstream ini kita namai test-up.
    Namun, untuk paket data downstream, kita membutuhkan beberapa buah rule. Karena kita menggunakan translasi IP/masquerade, kita membutuhkan Connection Mark. Pada contoh ini, kita namai test-conn.
    Kemudian, kita harus membuat juga 2 buah rule. Rule yang pertama, untuk paket data downstream non HTTP yang langsung dari internet (tidak melewati proxy). Kita menggunakan chain forward, karena data mengalir melalui router.
    Rule yang kedua, untuk paket data yang berasal dari WEB-PROXY. Kita menggunakan chain output, karena arus data berasal dari aplikasi internal di dalam router ke mesin di luar router.
    Paket data untuk downstream pada kedua rule ini kita namai test-down.
    Jangan lupa, parameter passthrough hanya diaktifkan untuk connection mark saja.

    [admin@instaler] > ip firewall mangle print
    Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 
     0   ;;; UP TRAFFIC
         chain=prerouting in-interface=lan 
         src-address=172.21.1.0/24 action=mark-packet 
         new-packet-mark=test-up passthrough=no 
    
     1   ;;; CONN-MARK
         chain=forward src-address=172.21.1.0/24 
         action=mark-connection 
         new-connection-mark=test-conn passthrough=yes 
    
     2   ;;; DOWN-DIRECT CONNECTION
         chain=forward in-interface=public 
         connection-mark=test-conn action=mark-packet 
         new-packet-mark=test-down passthrough=no 
    
     3   ;;; DOWN-VIA PROXY
         chain=output out-interface=lan 
         dst-address=172.21.1.0/24 action=mark-packet 
         new-packet-mark=test-down passthrough=no 
    
    Untuk tahap terakhir, tinggal mengkonfigurasi queue. Di sini kita menggunakan queue tree. Satu buah rule untuk data dowstream, dan satu lagi untuk upstream. Yang penting di sini, adalah pemilihan parent. Untuk downstream, kita menggunakan parent lan, sesuai dengan interface yang mengarah ke jaringan lokal, dan untuk upstream, kita menggunakan parent global-in.

    [admin@instaler] > queue tree pr
    Flags: X - disabled, I - invalid 
     0   name="downstream" parent=lan packet-mark=test-down 
         limit-at=32000 queue=default priority=8 
         max-limit=32000 burst-limit=0 
         burst-threshold=0 burst-time=0s 
    
     1   name="upstream" parent=global-in 
         packet-mark=test-up limit-at=32000 
         queue=default priority=8 
         max-limit=32000 burst-limit=0 
         burst-threshold=0 burst-time=0s
    
    Variasi lainnya, untuk bandwidth management, dimungkinkan juga kita menggunakan tipe queue PCQ, yang bisa secara otomatis membagi trafik per client.

    Setting Mikrotik Wireless Bridge

    By: Unknown On: 20.04
  • Let's Get Social
  • Sering kali, kita ingin menggunakan Mikrotik Wireless untuk solusi point to point dengan mode jaringan bridge (bukan routing). Namun, Mikrotik RouterOS sendiri didesain bekerja dengan sangat baik pada mode routing. Kita perlu melakukan beberapa hal supaya link wireless kita bisa bekerja untuk mode bridge.  Mode bridge memungkinkan network yang satu tergabung dengan network di sisi satunya secara transparan, tanpa perlu melalui routing, sehingga mesin yang ada di network yang satu bisa memiliki IP Address yang berada dalam 1 subnet yang sama dengan sisi lainnya.
    Namun, jika jaringan wireless kita sudah cukup besar, mode bridge ini akan membuat traffic wireless meningkat, mengingat akan ada banyak traffic broadcast dari network yang satu ke network lainnya. Untuk jaringan yang sudah cukup besar, saya menyarankan penggunaan mode routing.
    Berikut ini adalah diagram network yang akan kita set.

    Konfigurasi Pada Access Point
    1. Buatlah sebuah interface bridge yang baru, berilah nama bridge1
     
    2. Masukkan ethernet ke dalam interface bridge

    3. Masukkan IP Address pada interface bridge1
    4. Selanjutnya adalah setting wireless interface. Kliklah pada menu Wireless (1), pilihlah tab interface (2) lalu double click pada nama interface wireless yang akan digunakan (3). Pilihlah mode AP-bridge (4), tentukanlah ssid (5), band 2.4GHz-B/G (6), dan frekuensi yang akan digunakan (7). Jangan lupa mengaktifkan default authenticated (8) dan default forward (9). Lalu aktifkankanlah interface wireless (10) dan klik OK (11).

    5. Berikutnya adalah konfigurasi WDS pada wireless interface yang digunakan. Bukalah kembali konfigurasi wireless seperti langkah di atas, pilihlah tab WDS (1). Tentukanlah WDS Mode dynamic (2) dan pilihlah bridge interface untuk WDS ini (3). Lalu tekan tombol OK.
    6. Langkah selanjutnya adalah menambahkan virtual interface WDS. Tambahkan interface WDS baru seperti pada gambar, lalu pilihlah interface wireless yang kita gunakan untuk WDS ini. Lalu tekan OK.
    7. Jika WDS telah ditambahkan, maka akan tampak interface WDS baru seperti pada gambar di bawah.


    Konfigurasi pada Wireless Station
    Konfigurasi pada wireless station hampir sama dengan langkah-langkah di atas, kecuali pada langkah memasukkan IP Address dan konfigurasi wirelessnya. Pada konfigurasi station, mode yang digunakan adalah station-wds, frekuensi tidak perlu ditentukan, namun harus menentukan scan-list di mana frekuensi pada access point masuk dalam scan list ini. Misalnya pada access point kita menentukan frekuensi 2412, maka tuliskanlah scan-list 2400-2500.


    Pengecekan link

    Jika link wireless yang kita buat sudah bekerja dengan baik, maka pada menu wireless, akan muncul status R (lihat gambar di bawah).


    Selain itu, mac-address dari wireless yang terkoneksi juga bisa dilihat pada jendela registration (lihat gambar di bawah).


    Konfigurasi keamanan jaringan wireless
    Pada Mikrotik, cara paling mudah untuk menjaga keamanan jaringan adalah dengan mendaftarkan mac-address wireless pasangan pada access list. Hal ini harus dilakukan pada sisi access point maupun pada sisi client. Jika penginputan access-list telah dilakukan, maka matikanlah fitur default authenticated pada wireless, maka wireless lain yang mac addressnya tidak terdaftar tidak akan bisa terkoneksi ke jaringan kita.
    Jika kita menginginkan fitur keamanan yang lebih baik, kita juga bisa menggunakan enkripsi baik WEP maupun WPA.

    Simple Static Routing

    By: Unknown On: 20.01
  • Let's Get Social

  • Topologi 1

     

    Topologi yang paling sederhana. Router A dan Router B direct connect / terhubung langsung via ethernet. Maka pengaturan routing yang perlu ditambahkan sebagai berikut


    Penambahan routing di Router A

    Penambahan routing di Router B

    Cukup mudah bukan??

    Sekarang bagaimana kalau router A dan router B tidak bisa direct connect, mungkin harus melewati perangkat lain, misalnya link wireless, atau mungkin tunnel / VPN?.
    Contoh berikutnya yaitu topologi 2.

    Topologi 2

    Disini Router A dan Router B supaya bisa berkomunikasi harus melewati perangkat lain yang melakukan BRIDGING. Pada umumnya, perangkat-perangkat router / wireless bisa melakukan fungsi bridging. Ciri paling mudah mengenali perangkat yang dilewati (dalam contoh ini perangkat wireless) apakah melakukan bridging atau tidak adalah IP Router A, IP wireless router/perangkat lain dan IP Router B memiliki IP segment yang sama (10.10.10.x/24)
    Karena Router A dan Router B memiliki IP segment yang sama, maka metode routingnya sama dengan contoh topologi 1. Tinggal disesuaikan IPnya


    Penambahan routing di Router A


    Penambahan routing di Router B

    Dari kedua contoh topologi diatas, mungkin masih terlalu sederhana. Mari kita ulas untuk topologi yang sedikit lebih kompleks.

    Topologi 3.


    Topologi 3 ini mirip dengan contoh topologi sebelumnya (topologi 2), tetapi untuk topologi 3 ini, perangkat yang menghubungkan antara Router A dan Router B juga menggunakan metode ROUTING. Apakah anda melihat perbedaannya??

    Benar sekali, antara router A, wireless Router, dan router B menggunakan IP segment yang berbeda.
    Apakah sudah mulai ada bayangan di router mana kita harus membuat membuat tabel routingnya? Jawabannya adalah di keempat router tersebut.
    Capture dari tabel routing keempat router tersebut sebagai berikut :

    Di sisi Router Indoor A :

    Penambahan routing di Router indoor A pertama


    Penambahan routing di Router indoor A kedua


    Penambahan routing di Router indoor A ketiga

    Di sisi Wireless Router A :

    Penambahan routing di Wireless Router A pertama


    Penambahan routing di Wireless Router A kedua

    Penambahan routing di wireless Router A ketiga
    Di sisi Wireless Router B :
    Penambahan routing di wireless Router B pertama

    Penambahan routing di wireless Router B kedua

    Penambahan routing di wireless Router B ketiga

    Di sisi Router Indoor B :


    Penambahan routing di Router indoor B pertama

    Penambahan routing di Router indoor B kedua

    Penambahan routing di Router indoor B ketiga

    Done..
    Let's routing the world!!!

    Management Bandwith dengan Simple Queue

    By: Unknown On: 19.56
  • Let's Get Social
  • Pada sebuah jaringan yang mempunyai banyak client, diperlukan sebuah mekanisme pengaturan bandwidth dengan tujuan mencegah terjadinya monopoli penggunaan bandwidth sehingga semua client bisa mendapatkan jatah bandwidth masing-masing. QOS(Quality of services) atau lebih dikenal dengan Bandwidth Manajemen, merupakan metode yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
    Pada RouterOS Mikrotik penerapan QoS bisa dilakukan dengan fungsi Queue.
    network diagram
    Limitasi Bandwidth Sederhana
    Cara paling mudah untuk melakukan queue pada RouterOS adalah dengan menggunakan Simple Queue. Kita bisa melakukan pengaturan bandwidth secara sederhana berdasarkan IP Address client dengan menentukan kecepatan upload dan download maksimum yang bisa dicapai oleh client.
    Contoh :
    Kita akan melakukan limitasi maksimal upload : 128kbps dan maksimal download : 512kbps terhadap client dengan IP 192.168.10.2 yang terhubung ke Router. Parameter Target Address adalah IP Address dari client yang akan dilimit. Bisa berupa :
    • Single IP (192.168.10.2)
    • Network IP (192.168.10.0/24)
    • Beberapa IP (192.168.10.2,192.168.10.13) dengan menekan tombol panah bawah kecil di sebelah kanan kotak isian.
    Penentuan kecepatan maksimum client dilakukan pada parameter target upload dan target download max-limit. Bisa dipilih dengan drop down menu atau ditulis manual. Satuan bps (bit per second).
    Dengan pengaturan tersebut maka Client dengan IP 192.168.10.2 akan mendapatkan kecepatan maksimum Upload 128kbps dan Download 256kbps dalam keadaan apapun selama bandwidth memang tersedia.
    network diagram
    Metode Pembagian Bandwidth Share
    Selain digunakan untuk melakukan manajemen bandwidth fix seperti pada contoh sebelumnya, kita juga bisa memanfaatkan Simple Queue untuk melakukan pengaturan bandwidth share dengan menerapkan Limitasi Bertingkat. Konsep Limitasi Bertingkat  bisa anda baca pada artikel Mendalami HTB pada QOS RouterOS Mikrotik
    Contoh :
    Kita akan melakukan pengaturan bandwidth sebesar 512kbps untuk digunakan 3 client.
    Konsep:
    1. Dalam keadaan semua client melakukan akses, maka masing-masing client akan mendapat bandwidth minimal 128kbps.
    2. Jika hanya ada 1 Client yang melakukan akses, maka client tersebut bisa mendapatkan bandwidth hingga 512kbps.
    3. Jika terdapat beberapa Client (tidak semua client) melakukan akses, maka bandwidth yang tersedia akan dibagi rata ke sejumlah client yg aktif.
    Topologi Jaringan
    Router kita tidak tahu berapa total bandwidth real yang kita miliki, maka kita harus definisikan pada langkah pertama. Pendefinisian ini bisa dilakukan dengan melakukan setting Queue Parent. Besar bandwidth yang kita miliki bisa diisikan pada parameter Target Upload Max-Limit dan Target Download Max-Limit.
    Langkah selanjutnya kita akan menentukan limitasi per client dengan melakukan setting child-queue.
    Pada child-queue kita tentukan target-address dengan mengisikan IP address masing-masing client. Terapkan Limit-at (CIR) : 128kbps dan Max-Limit (MIR) : 512kbps. Arahkan ke Parent Total Bandwidth yang kita buat sebelumnya.

    Ulangi untuk memberikan limitasi pada client yang lain, sesuaikan Target-Address.

    Selanjutnya lakukan pengetesan dengan melakukan download di sisi client.
    Pada gambar berikut menunjukkan perbedaan kondisi penggunaan bandwidth client setelah dilakukan limitasi bertingkat
    Kondisi 1
    Kondisi 1 menunjukkan ketika hanya 1 client saja yg menggunakan bandwidth, maka Client tersebut bisa mendapat hingga Max-Limit.

    Perhitungan : Pertama Router akan memenuhi Limit-at Client yaitu 128kbps. Bandwitdh yang tersedia masih sisa 512kbps-128kbps=384kbps. Karena client yang lain tidak aktif maka 384kbps yang tersisa akan diberikan lagi ke Client1 sehingga mendapat 128kbps+384kbps =512kbps atau sama dengan max-limit.
    Kondisi 2
    Kondisi 2 menggambarkan ketika hanya 2 client yang menggunakan bandwidth.
    Perhitungan : Pertama router akan memberikan limit-at semua client terlebih dahulu. Akumulasi Limit-at untuk 2 client = 128kbps x 2 =256kbps . Bandwidth total masih tersisa 256kbps. Sisa diberikan kemana.? Akan dibagi rata ke kedua Client.
    Sehingga tiap client mendapat Limit-at + (sisa bandwidth / 2) = 128kbps+128kbps =256kbps
    Kondisi 3
    Kondisi 3 menunjukkan apabila semua client menggunakan bandwidth.
    Perhitungan: Pertama Router akan memenuhi Limit-at tiap client lebih dulu, sehingga bandwidth yang digunakan 128kbps x 3 = 384kbps. Bandwidth total masih tersisa 128kbps. Sisa bandwidth akan dibagikan ke ketiga client secara merata sehingga tiap client mendapat 128kbps + (128kbps/3) = 170kbps.
    Pada Limitasi bertingkat ini juga bisa diterapkan Priority untuk client. Nilai priority queue adalah 1-8 dimana terendah 8 dan tertinggi 1.
    Contoh :
    Client 1 adalah VVIP user, maka bisa diberikan Priority 1 (tertinggi).

    Jika kita menerapkan priority perhitungan pembagian bandwidth hampir sama dengan sebelumnya. Hanya saja setelah limit-at semua client terpenuhi, Router akan melihat priority client. Router akan mencoba memenuhi Max-Limit client priority tertinggi dengan bandwidth yang masih tersedia.


    Perhitungan: Client 1 mempunyai priority tertinggi maka router akan mencoba memberikan bandwidth sampai batas Max-Limit yaitu 512kbps. Sedangkan bandwidth yang tersisa hanya 128kbps, maka Client1 mendapat bandwidth sebesar Limit-at + Sisa Bandwidth = 128kbps+128kbps = 256kbps
    Konsep pembagian bandwidth ini mirip ketika anda berlangganan internet dengan sistem Bandwidth share.
    Limitasi bertingkat juga bisa diterapkan ketika dibutuhkan sebuah pengelompokkan pembagian bandwidth.
    Tampak pada gambar, limitasi Client1 dan Client3 tidak menganggu limitasi Client2 karena sudah berbeda parent. Perhatikan max-limit pada Limitasi Manager dan Limitasi Staff.
    network diagram
    Bypass Traffic Lokal
    Ketika kita melakukan implementasi Simple Queue, dengan hanya berdasarkan target-address, maka Router hanya akan melihat dari mana traffic itu berasal. Sehingga kemanapun tujuan traffic nya (dst-address) tetap akan terkena limitasi. Tidak hanya ke arah internet, akan tetapi ke arah jaringan Lokal lain yang berbeda segment juga akan terkena limitasi.
    Contoh :
    • IP LAN 1 : 192.168.10.0/24
    • IP LAN 2 : 192.168.11.0/24
    Jika hanya dibuat Simple Queue dengan target-address : 192.168.10.0/24, traffic ke arah 192.168.11.0/24 juga akan terlimit. Agar traffic ke arah jaringan lokal lain tidak terlimit, kita bisa membuat Simple Queue baru dengan mengisikan dst-address serta tentukan Max-Limit sebesar maksimal jalur koneksi, misalnya 100Mbps. Kemudian letakkan rule tersebut pada urutan teratas (no. 0).
    Rule Simple Queue dibaca dari urutan teratas (no. 0) sehingga dengan pengaturan tersebut traffic dari LAN1 ke LAN2 dan sebaliknya maksimum transfer rate sebesar 100Mbps atau setara dengan kecepatan kabel ethernet.

    PPPoE Sebagai Penangkal NetCut

    By: Unknown On: 19.53
  • Let's Get Social



  • Aplikasi NetCut menyerang pada Layer2. Pada saat diaktifkan Netcut akan melakukan broadcast ARP pada jaringan dengan segment yang sama dengan PC Penyerang, sehingga didapatkan informasi MAC Address dan IP Address yang terpasang pada perangkat client lain di jaringan tersebut.
    Setelah informasi tersebut didapatkan, penyerang akan dengan mudah melakukan pemutusan trafik jaringan atas sebuah client. Pemutusan ini dilakukan dengan mengirimkan informasi ARP palsu kepada Router (gateway) serta kepada Client, sehingga posisi Penyerang berada di antara Router Gateway dengan Client.

    Contoh:
    Misalnya ada topologi seperti gambar. Terdapat PC Penyerang dan PC Korban berada dalam jaringan satu segment.
    Informasi masing-masing PC
    • PC Penyerang : Mac Address=60:eb:69:78:d9:1f  ; IP Address=192.168.88.253/24
    • PC Korban : MAC Address=10:1f:74:b7:7f:db ; IP Address=192.168.88.254/24

    Fungsi ARP sebenarnya adalah sebagai jembatan komunikasi OSI Layer 2 dan Layer3, untuk memetakan IP Address terhadap MAC-Address. List ARP pada Mikrotik bisa anda lihat pada menu /ip arp. Terlihat daftar perangkat yang terhubung ke router dengan informasi kombinasi IP Address dan Mac-Address.

    Sekarang kita lihat bagaimana saat PC Penyerang sudah mengaktifkan NetCut untuk memutus koneksi korban. NetCut akan melakukan scanning perangkat yang berada dalam segment yang sama.
    Saat sudah menekan tombol cut off, coba cermati List ARP menu /ip arp pada Mikrotik. Coba perhatikan MAC Address dari PC korban. Informasi MAC-Address PC Korban sudah berubah, bandingkan dengan kondisi awal.
    Inilah penyebab trafik jaringan korban terputus. Packet data dari internet yang ingin kembali ke PC Korban tidak sampai karena informasi MAC Address telah berubah, bukan lagi MAC Address asli dari PC Korban.
    Langkah yang paling efektif untuk melakukan pencegahan adalah dengan melakukan semacam isolasi sehingga setiap PC (atau yang diduga mengaktifkan Netcut) tidak bisa berkomunikasi dengan Client yang lain dan melakukan scanning.
    Pada Router Mikrotik, pencegahan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan service PPPoE (point to point over ethernet), khususnya untuk jaringan kabel seperti topologi. Kita buat agar komunikasi Client hanya point to point dengan Router Gateway tanpa bisa berkomunikasi dengan Client lain di bawah Router yang sama.
    Langkah awal, aktifkan pppoe server Mikrotik pada interface yang mengarah ke client. Pada Lab ini kita menggunakan interface bridge. Bisa dikonfigurasi via Winbox pada menu PPP->PPPoE Server -> Add

    Langkah selanjutnya, tentukan user dan password untuk client yang ingin terhubung ke Mikrotik menggunakan pppoe. Masuk tab Secrets pada menu PPP kemudian anda tentukan user name, password, profile, local address dan remote address.
    Langkah pembuatan secret sama dengan pembuatan secret untuk PPTP dan service PPP yang lain. Untuk parameter profile, jika client anda menggunakan windows 7 pilih "default encryption".
    Langkah selanjutnya buat pppoe client di sisi perangkat PC. Kita coba pada sisi PC Korban terlebih dahulu.
    Berikut langkah pembuatan PPPoE Client pada  Windows 7, kita buat sebuah koneksi baru pada pengaturan Network and Sharing center, lalu pilih Setup a New Connection or Network.
    Langkah kedua pilih Connect to the internet
    Pada langkah selanjutnya pilih Broadband (PPPoE)
    Selanjutnya, masukkan user dan password sesuai pengaturan secret pada PPPoE server. Lalu Klik Connect.
    Tunggu hingga proses selesai.

    Sampai di sini , coba aktifkan NetCut di sisi PC Penyerang, dia tidak bisa melihat PC Korban yang saat ini sudah menggunakan PPPoE untuk terkoneksi ke Router.
    Saat ini PC Korban telah menggunakan PPPoE sebagai jalur koneksi ke Router Gateway, sehingga tidak bisa dilihat dari client yang lain di bawah Router yang sama.