Jumat, 18 Juli 2014

10 Perang Paling Mematikan Dalam Sejarah

By: Unknown On: 01.09
  • Let's Get Social
  •  
    World War Two (1939-1945)


     Perang dunia 2 melibatkan banyak sekali negara di dunia —termasuk semua kekuatan besar—yang pada akhirnya membentuk dua aliansi militer yang saling bertentangan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terluas dalam sejarah yang melibatkan lebih dari 100 juta orang di berbagai pasukan militer Dalam keadaan “perang total”,perang ini memakan korban jiwa sebanyak 60 juta sampai 80 juta jiwa. Jumlah kematian ini menjadikan Perang Dunia II konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.
    Mongolian Conquests (Abad 13):
     
    Untuk perang ini terjadi di daerah Asia, Eropa Timur, Timur Tengah dan terjadi pada tahun 1207-1427. Kematiannya mencapai kurang lebih 60.000.000. Perang ini terjadi akibat pertentangan negara-negara tersebut yang akhirnya memutuskan untuk melakukan peperangan. 
    An Shi Rebellion (755-763):
    Pemberontakan An Shi Adalah sebuah pemberontakan masif terhadap kekuasaan Dinasti Tang (Kaisar Xuangzong) di China, yang terjadi antara 16 Desember 755 hingga 17 Februari 763. An Lushan sendiri adalah seorang Jenderal dari Dinasti Tang yang memilih untuk memberontak karena kekuatan Tang yang melemah akibat berbagai peperangan. Perang ini telah merengut setidaknya 33 Juta korban jiwa.
    Taiping Rebellion (1851-1864):
    Perang ini terjadi di negara China dan terjadi pada tahun 1851-1864. Kematian diperkirakan mencapai 30.000.000. Perang ini terjadi akibat adanya pemberontakan Taipang. Perang memang menjadi salah satu pilihan terakhir untuk memecahkan masalah ini.
    Collapse Of The Ming Dynasty (1618-1644):
    Di penghujung Dinasti Ming ((1368 – 1644),Pemberontakan marak di seluruh negara dan pada puncaknya, Beijing jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin oleh Li Zicheng. Kekalahan ini menyebabkan Chongzhen menggantungkan dirinya di bukit di belakang Kota Terlarang.Setelah Beijing dikuasai oleh suku Manchu, mereka kemudian mendirikan Dinasti Qing yang menandai runtuhnya Dinasti Ming.Dalam sejarah, kekuatan ini dikenal sebagai Ming Selatan. Ming Selatan kemudian berhasil dihancurkan oleh Kaisar Kangxi pada tahun 1683. Korban jiwa dari perang ini yaitu 25 juta 
    Second Sino-Japanese War (1937-1945):
    Perang Cina-Jepang,Merupakan perang asia terbesar di abad ke-20, berlangsung diantara 7 Juli 1937 - 9 September 1945. Korban dari perang yaitu berjumlah 20 juta jiwa korban perang ini terjadi karena akibat dari kebijakan imperialis jepang yang sudah berlangsung selama beberapa dekade.Jepang bermaksud mendominasi China secara politis dan militer untuk menjaga cadangan bahan baku dan sumber daya alam yang sangat banyak dimiliki China.
    World War One (1914-1918):
    Perang dunia 1 berlangsung pada tahun 1914-1918 perang yang berlangsung selama 4 tahun ini setidaknya telah merengut lebih dari 15 juta hingga 65 juta korban jiwa Teknologi baru (Tank & Gas Beracun) sebagian bertanggung jawab pada kematian itu,Perang Dunia I adalah perang besar berpusat di Eropa yang dimulai pada musim panas 1914 dan berlangsung sampai November 1918 setidaknya lebih dari 70 juta personil militer ikut dalam perang in.
    Conquests Of Timur (1369-1405):
    Lokasi perang ini terjadi di Timur Tengah,India,Asia Tengah,Dan Rusia. Perang ini berlangsung pada tahun 1369-1405 perang ini setidaknya telah merengut 15 Juta-20 Juta korban jiwa 
    Russian Civil War (1917-1921):
    Perang Saudara Rusia (1917-1921) ini diperkirakan telah merengut lebih dari 9 juta manusia Perang Saudara Rusia adalah perang multi partai yang terjadi dalam Imperium Rusia setelah pemerintahan sementara Rusia runtuh ke Soviet.
    Dungan Revolt (1862-1877):
    Perang yang berlokasi di china (1862-1877) ini telah menelan banyak korban jiwa,Setidaknya perkiraan 8 juta - 12 juta manusia meninggal dalam perang ini  pemicu masalah terjadinya peperangan ini karena adanya pemberontakan ketika massa emigrasi orang dungan ke kekaisaran Rusi. 
    Deadliest Wars In History:
    Satu hal bahwa jenis manusia lakukan dari awal waktu berperang satu sama lain. Banyak sekali pertempuran terjadi dari tangan dan dirasakan orang-orang tak bersalah. Berikut adalah 10 Perang Mematikan Dalam Sejarah . Angka kematian manusia pun cukup tinggi 1 juta atau lebih termasuk kematian warga sipil dari penyakit, kelaparan, dll, serta kematian tentara dalam pertempuran.

    Selasa, 15 Oktober 2013

    Queue di SRC-NAT & WEB-PROXY

    By: Unknown On: 20.06
  • Let's Get Social

  • Pada penggunaan queue (bandwidth limiter), penentuan CHAIN pada MENGLE sangat menentukan jalannya sebuah rule. Jika kita memasang SRC-NAT dan WEB-PROXY pada mesin yang sama, sering kali agak sulit untuk membuat rule QUEUE yang sempurna. Penjelasan detail mengenai pemilihan CHAIN, dapat dilihat pada manual Mikrotik di sini. Percobaan yang dilakukan menggunakan sebuah PC dengan Mikrotik RouterOS versi 2.9.28. Pada mesin tersebut, digunakan 2 buah interface, satu untuk gateway yang dinamai PUBLIC dan satu lagi untuk jaringan lokal yang dinamai LAN.

    [admin@instaler] > in pr
    Flags: X - disabled, D - dynamic, R - running 
     #    NAME       TYPE    RX-RATE    TX-RATE    MTU  
     0  R public     ether   0          0          1500 
     1  R lan        wlan    0          0          1500
    
    Dan berikut ini adalah IP Address yang digunakan. Subnet 192.168.0.0/24 adalah subnet gateway untuk mesin ini.

    [admin@instaler] > ip ad pr
    Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 
     #  ADDRESS           NETWORK      BROADCAST      INTERFACE
     0  192.168.0.217/24  192.168.0.0  192.168.0.255  public   
     1  172.21.1.1/24     172.21.1.0   172.21.1.255   lan
    
    Fitur web-proxy dengan transparan juga diaktifkan.

     [admin@instaler] > ip web-proxy pr
                     enabled: yes
                 src-address: 0.0.0.0
                        port: 3128
                    hostname: "proxy"
           transparent-proxy: yes
                parent-proxy: 0.0.0.0:0
         cache-administrator: "webmaster"
             max-object-size: 4096KiB
                 cache-drive: system
              max-cache-size: none
          max-ram-cache-size: unlimited
                      status: running
          reserved-for-cache: 0KiB
      reserved-for-ram-cache: 154624KiB
    
    Fungsi MASQUERADE diaktifkan, juga satu buah rule REDIRECTING untuk membelokkan traffic HTTP menuju ke WEB-PROXY

    [admin@instaler] ip firewall nat> pr
    Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 
     0   chain=srcnat out-interface=public 
         src-address=172.21.1.0/24 action=masquerade 
     1   chain=dstnat in-interface=lan src-address=172.21.1.0/24 
         protocol=tcp dst-port=80 action=redirect to-ports=3128
    
    Berikut ini adalah langkah terpenting dalam proses ini, yaitu pembuatan MANGLE. Kita akan membutuhkan 2 buah PACKET-MARK. Satu untuk paket data upstream, yang pada contoh ini kita sebut test-up. Dan satu lagi untuk paket data downstream, yang pada contoh ini kita sebut test-down.
    Untuk paket data upstream, proses pembuatan manglenya cukup sederhana. Kita bisa langsung melakukannya dengan 1 buah rule, cukup dengan menggunakan parameter SRC-ADDRESS dan IN-INTERFACE. Di sini kita menggunakan chain prerouting. Paket data untuk upstream ini kita namai test-up.
    Namun, untuk paket data downstream, kita membutuhkan beberapa buah rule. Karena kita menggunakan translasi IP/masquerade, kita membutuhkan Connection Mark. Pada contoh ini, kita namai test-conn.
    Kemudian, kita harus membuat juga 2 buah rule. Rule yang pertama, untuk paket data downstream non HTTP yang langsung dari internet (tidak melewati proxy). Kita menggunakan chain forward, karena data mengalir melalui router.
    Rule yang kedua, untuk paket data yang berasal dari WEB-PROXY. Kita menggunakan chain output, karena arus data berasal dari aplikasi internal di dalam router ke mesin di luar router.
    Paket data untuk downstream pada kedua rule ini kita namai test-down.
    Jangan lupa, parameter passthrough hanya diaktifkan untuk connection mark saja.

    [admin@instaler] > ip firewall mangle print
    Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic 
     0   ;;; UP TRAFFIC
         chain=prerouting in-interface=lan 
         src-address=172.21.1.0/24 action=mark-packet 
         new-packet-mark=test-up passthrough=no 
    
     1   ;;; CONN-MARK
         chain=forward src-address=172.21.1.0/24 
         action=mark-connection 
         new-connection-mark=test-conn passthrough=yes 
    
     2   ;;; DOWN-DIRECT CONNECTION
         chain=forward in-interface=public 
         connection-mark=test-conn action=mark-packet 
         new-packet-mark=test-down passthrough=no 
    
     3   ;;; DOWN-VIA PROXY
         chain=output out-interface=lan 
         dst-address=172.21.1.0/24 action=mark-packet 
         new-packet-mark=test-down passthrough=no 
    
    Untuk tahap terakhir, tinggal mengkonfigurasi queue. Di sini kita menggunakan queue tree. Satu buah rule untuk data dowstream, dan satu lagi untuk upstream. Yang penting di sini, adalah pemilihan parent. Untuk downstream, kita menggunakan parent lan, sesuai dengan interface yang mengarah ke jaringan lokal, dan untuk upstream, kita menggunakan parent global-in.

    [admin@instaler] > queue tree pr
    Flags: X - disabled, I - invalid 
     0   name="downstream" parent=lan packet-mark=test-down 
         limit-at=32000 queue=default priority=8 
         max-limit=32000 burst-limit=0 
         burst-threshold=0 burst-time=0s 
    
     1   name="upstream" parent=global-in 
         packet-mark=test-up limit-at=32000 
         queue=default priority=8 
         max-limit=32000 burst-limit=0 
         burst-threshold=0 burst-time=0s
    
    Variasi lainnya, untuk bandwidth management, dimungkinkan juga kita menggunakan tipe queue PCQ, yang bisa secara otomatis membagi trafik per client.

    Setting Mikrotik Wireless Bridge

    By: Unknown On: 20.04
  • Let's Get Social
  • Sering kali, kita ingin menggunakan Mikrotik Wireless untuk solusi point to point dengan mode jaringan bridge (bukan routing). Namun, Mikrotik RouterOS sendiri didesain bekerja dengan sangat baik pada mode routing. Kita perlu melakukan beberapa hal supaya link wireless kita bisa bekerja untuk mode bridge.  Mode bridge memungkinkan network yang satu tergabung dengan network di sisi satunya secara transparan, tanpa perlu melalui routing, sehingga mesin yang ada di network yang satu bisa memiliki IP Address yang berada dalam 1 subnet yang sama dengan sisi lainnya.
    Namun, jika jaringan wireless kita sudah cukup besar, mode bridge ini akan membuat traffic wireless meningkat, mengingat akan ada banyak traffic broadcast dari network yang satu ke network lainnya. Untuk jaringan yang sudah cukup besar, saya menyarankan penggunaan mode routing.
    Berikut ini adalah diagram network yang akan kita set.

    Konfigurasi Pada Access Point
    1. Buatlah sebuah interface bridge yang baru, berilah nama bridge1
     
    2. Masukkan ethernet ke dalam interface bridge

    3. Masukkan IP Address pada interface bridge1
    4. Selanjutnya adalah setting wireless interface. Kliklah pada menu Wireless (1), pilihlah tab interface (2) lalu double click pada nama interface wireless yang akan digunakan (3). Pilihlah mode AP-bridge (4), tentukanlah ssid (5), band 2.4GHz-B/G (6), dan frekuensi yang akan digunakan (7). Jangan lupa mengaktifkan default authenticated (8) dan default forward (9). Lalu aktifkankanlah interface wireless (10) dan klik OK (11).

    5. Berikutnya adalah konfigurasi WDS pada wireless interface yang digunakan. Bukalah kembali konfigurasi wireless seperti langkah di atas, pilihlah tab WDS (1). Tentukanlah WDS Mode dynamic (2) dan pilihlah bridge interface untuk WDS ini (3). Lalu tekan tombol OK.
    6. Langkah selanjutnya adalah menambahkan virtual interface WDS. Tambahkan interface WDS baru seperti pada gambar, lalu pilihlah interface wireless yang kita gunakan untuk WDS ini. Lalu tekan OK.
    7. Jika WDS telah ditambahkan, maka akan tampak interface WDS baru seperti pada gambar di bawah.


    Konfigurasi pada Wireless Station
    Konfigurasi pada wireless station hampir sama dengan langkah-langkah di atas, kecuali pada langkah memasukkan IP Address dan konfigurasi wirelessnya. Pada konfigurasi station, mode yang digunakan adalah station-wds, frekuensi tidak perlu ditentukan, namun harus menentukan scan-list di mana frekuensi pada access point masuk dalam scan list ini. Misalnya pada access point kita menentukan frekuensi 2412, maka tuliskanlah scan-list 2400-2500.


    Pengecekan link

    Jika link wireless yang kita buat sudah bekerja dengan baik, maka pada menu wireless, akan muncul status R (lihat gambar di bawah).


    Selain itu, mac-address dari wireless yang terkoneksi juga bisa dilihat pada jendela registration (lihat gambar di bawah).


    Konfigurasi keamanan jaringan wireless
    Pada Mikrotik, cara paling mudah untuk menjaga keamanan jaringan adalah dengan mendaftarkan mac-address wireless pasangan pada access list. Hal ini harus dilakukan pada sisi access point maupun pada sisi client. Jika penginputan access-list telah dilakukan, maka matikanlah fitur default authenticated pada wireless, maka wireless lain yang mac addressnya tidak terdaftar tidak akan bisa terkoneksi ke jaringan kita.
    Jika kita menginginkan fitur keamanan yang lebih baik, kita juga bisa menggunakan enkripsi baik WEP maupun WPA.

    Simple Static Routing

    By: Unknown On: 20.01
  • Let's Get Social

  • Topologi 1

     

    Topologi yang paling sederhana. Router A dan Router B direct connect / terhubung langsung via ethernet. Maka pengaturan routing yang perlu ditambahkan sebagai berikut


    Penambahan routing di Router A

    Penambahan routing di Router B

    Cukup mudah bukan??

    Sekarang bagaimana kalau router A dan router B tidak bisa direct connect, mungkin harus melewati perangkat lain, misalnya link wireless, atau mungkin tunnel / VPN?.
    Contoh berikutnya yaitu topologi 2.

    Topologi 2

    Disini Router A dan Router B supaya bisa berkomunikasi harus melewati perangkat lain yang melakukan BRIDGING. Pada umumnya, perangkat-perangkat router / wireless bisa melakukan fungsi bridging. Ciri paling mudah mengenali perangkat yang dilewati (dalam contoh ini perangkat wireless) apakah melakukan bridging atau tidak adalah IP Router A, IP wireless router/perangkat lain dan IP Router B memiliki IP segment yang sama (10.10.10.x/24)
    Karena Router A dan Router B memiliki IP segment yang sama, maka metode routingnya sama dengan contoh topologi 1. Tinggal disesuaikan IPnya


    Penambahan routing di Router A


    Penambahan routing di Router B

    Dari kedua contoh topologi diatas, mungkin masih terlalu sederhana. Mari kita ulas untuk topologi yang sedikit lebih kompleks.

    Topologi 3.


    Topologi 3 ini mirip dengan contoh topologi sebelumnya (topologi 2), tetapi untuk topologi 3 ini, perangkat yang menghubungkan antara Router A dan Router B juga menggunakan metode ROUTING. Apakah anda melihat perbedaannya??

    Benar sekali, antara router A, wireless Router, dan router B menggunakan IP segment yang berbeda.
    Apakah sudah mulai ada bayangan di router mana kita harus membuat membuat tabel routingnya? Jawabannya adalah di keempat router tersebut.
    Capture dari tabel routing keempat router tersebut sebagai berikut :

    Di sisi Router Indoor A :

    Penambahan routing di Router indoor A pertama


    Penambahan routing di Router indoor A kedua


    Penambahan routing di Router indoor A ketiga

    Di sisi Wireless Router A :

    Penambahan routing di Wireless Router A pertama


    Penambahan routing di Wireless Router A kedua

    Penambahan routing di wireless Router A ketiga
    Di sisi Wireless Router B :
    Penambahan routing di wireless Router B pertama

    Penambahan routing di wireless Router B kedua

    Penambahan routing di wireless Router B ketiga

    Di sisi Router Indoor B :


    Penambahan routing di Router indoor B pertama

    Penambahan routing di Router indoor B kedua

    Penambahan routing di Router indoor B ketiga

    Done..
    Let's routing the world!!!